Rabu, 29 Ogos 2012

JOM PUASA 6

Apabila tiba lebaran, antara nikmat yang dianugerahkan kepada kita di Malaysia, meja-meja makan kita penuh dengan hidangan yang berbagai jenis rupa. Maka nafsu makan yang selama sebulan cuba dikekang dengan berpuasa pun kembali bergelora. Namun jika kita kembali berpuasa, ianya sedikit sebanyak akan dapat melemahkan gelojak nafsu makan tersebut. Oleh itu, Junjungan Nabi SAW menganjurkan sebagai tuntutan sunnat untuk kita kembali berpuasa dalam bulan Syawwal selama 6 hari dengan ganjaran yang sungguh lumayan. Betapa tidak, dalam suasana nafsu makan yang sedang bergelojak, kita kekang dan kawal dengan berpuasa. Dengan melaksanakan puasa sunnat enam hari ini kita dijanjikan dengan ganjaran pahala seumpama berpuasa sepanjang tahun. Sungguh luar biasa dan agung ganjaran yang dijanjikan ini. Maka kenapa ye, masih ada yang segan-segan, malu-malu, malas-malas, untuk mengambil kelebihan ini. Sesungguhnya ibadah puasa sunnat 6 hari di bulan Syawwal ini adalah antara kemurahan Allah SWT ke atas umat ini. Amalan ini adalah salah satu cara yang ditunjukkan oleh Junjungan Nabi Muhammad SAW bagi umat baginda yang dhoif ini untuk meraih ganjaran puasa sepanjang tahun. Tak mampu rasanya kalau kita nak berpuasa sepanjang tahun, minus hari-hari yang diharamkan berpuasa. Puasa yang hok sebulan tu pun, ada yang kantoi, tok sah nak cakap puasa setahun. Oleh itu, janganlah kita yang dhoif ini menyombong diri dan bersikap bongkak menolak hadiah sebesar ini. Puasa 6 ini afdhalnya dilakukan berturut-turut selama 6 hari dalam bulan Syawwal menurut mazhab Syafi`i dan Hanbali, manakala menurut mazhab Hanafi dan Maliki yang afdhal adalah ianya dibuat secara berpisah-pisah dan tidak berturut-turut. Ini adalah segi afdhaliyyahnya sahaja, samada dibuat berturut-turut atau berpisah-pisah tetap dihukumkan sunnat dan diberi ganjaran sebagaimana dijanjikan dengan syarat kabul diterima Allah SWT. Marilah kita melaksanakan amalan sunnat ini, mudah-mudahan dapat menambah bekalan kita untuk kehidupan akhirat yang lebih bahagia.

Isnin, 16 Januari 2012

KE MANA PERGINYA ROH SETELAH KELUAR DARI JASAD


Oleh:
Ustaz Ya`ali Bin Dahaman Imam Masjid al-Syakirin

Diriwayatkan oleh al-Hafiz Abu Na`im bahawa apabila malaikat mengambil roh sesaorang dia akan membawa hingga bertemu dengan Allah Azzawajalla. Jika roh itu termasuk daripada orang yang baik dan beriman ia mendapat kebahgiaan,  Allah akan berfirman kepada Malaikat. “Bawalah dia dan perlihatkan   tempatnya di dalam syurga”.  Malaikat akan membawanya ke dalam syurga. Aapabila jasadnya dimandi dan dikapankan akan diletak bersama dengan jasadnya,   ketika  jasadnya diusung  ia boleh mendengar suara  orang yang berbicara tentang dirinya sama ada baik atau buruk.
Apabila  disembahyang   dan dikuburkan, pada masa itu roh akan dikembalikan ke jasadnya untuk disoalkan oleh dua orang malaikat yang ditugaskan untuk menyoal orang mati, dan seterusnya akan memberitahu tempatnya selepas itu berdasarkan baik buruk amalannya.

Amru bin Dinar pernah berkata; “Setiap roh orang yang mati berada ditangan malaikat, ia boleh melihat jasadnya ketika dimandikan, dikapankan, bagaimana jasadnya diusung  dan dimasukkan ke dalam kubur. Dalam riwayat lain ditambah;  dan dikatakan kepadanya  Ketika berada diatas katilnya, “dengarlah percakapan orang-orang yang berbicara tentang dirimu sama ada baik atau buruk”.
Dalam satu riwayat lain dikatakan;  Seorang bermimpi bertemu dengan  Muhammad bin Nabatah setelah dia meningal dunia dan bertanya; “Apakah yang dilakukan oleh Allah keatas kamu”, ia menjawab ; “Allah menempatkan aku didepanNya dan bertanya kepadaku;  “Kamu adalah orang yang membenarkan kata-kata mu semasa hidup didunia,  sehingga orang memujimu”, lalu aku  berkata; “maha suci Engkau Ya Allah dan seterusnya aku    mengajar mereka    tentang sifat-sifat Mu Yang Mulia dan mengajar mereka tentang ilmu tauhid”.

Lalu Allah berkata kepadaku; “Katakanlah seperti yang kamu katakan semasa di dunia”,  aku pun berkata; “Dia,  Allah s.w.t. akan menghancurkan manusia  sebagaimanaDia menciptakannya, Dia  akan  menjadikan manusia tidak bercakap  sebagaiman Dia membuat manusia   bercakap, Dia menciptakan manusia sepertimana sebelum ini manusia tidak ada, Dia akan mengumpulkan manusia sebagaimana Dia memisahkannya”, lalu Allah s.w.t. berkata; “Kamu benar, pergilah! Aku telah mengampunimu”.

Begitu juga dengan kata Mansur bin Imar, seorang    bermimpi bertemu dengannya setelah meninggal dunia lalu dia pun bertanya; “Apakah yang Allah lakukan kepadamu?”, ia menjawab: “Allah s.w.t. telah menempatkan aku didepanNya, lalu berkata; “ Dengan apa yang kamu datang  kepadaKu wahai Mansur?”, aku pun menjawab: “Dengan tigapuluh enam hujjah (alasan). Jawab Allah; “Aku tidak terima walau pun satu hujjah”. Kemudian Allah bertanya lagi; “Dengan apa yang kamu datang bertemu dengan Aku wahai Mansur?”. Dengan tiga ratus enam puluh kali khatam al-Quran al-Karim”.  Allah berkata lagi;  “Aku tidak menerima satu pun dari khatammu itu”,  lalu Dia bertanya  lagi; “Dengan apa kamu datang  bertemuKu  wahai Mansur?”, aku menjawab, “   “Aku datang  kepadaMu dengan Mu Ya Allah”.  Maka Allah s.w.t. pun menjawab” Mahasuci Allah, sekarang baru kau  datang disisiKu,   pergilah,  Aku telah mengampunimu”.  Sekian wallah `alam.

Bahan bacaan, Abd Wahab al-Sya`rani, Ringkasan Tazkiran al-Qurtubi, Jasmin, cetakan pertama 2008,  Hal. 50

Isnin, 5 September 2011

Sebab-sebab Kehancuran Umat

Pembaca yang budiman! Lembaran kita kali ini akan membicarakan tentang sebab sebab mengapa Allah subhanahu wata’ala menghancurkan penduduk sebuah negeri dan bahkan sebuah umat. Mengapa mereka dihancurkan? Apakah Allah subhanahu wata’ala berbuat zhalim kepada mereka? Tidak sama sekali, bahkan itulah balasan kezhaliman yang mereka lakukan.
Allah subhanahu wata’ala befirman, artinya,
“Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Huud:101)
Berikut ini di antara sebab-sebab mengapa sebuah negeri atau umat di hancurkan. Jika di suatu tempat telah tampak sebab-sebab ini maka artinya mereka sedang menunggu kebinasaan dan kehancuran dari Allah subhanahu wata’ala

1. Kezhaliman
Kezhaliman merupakan sebab paling dominan mengapa Allah subhanahu wata’ala menghancurkan sebuah negeri. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS Huud:102)
Amat banyak kezhaliman yang terjadi di suatu negeri atau kampung, kezhaliman kepada Allah subhanahu wata’ala, kezhaliman terhadap sesama manusia antara satu dengan yang lainnya. Berapa banyak kezhaliman yang terjadi di suatu negara, baik terhadap orang-orang kecil, para pegawai, buruh dan warga negara yang mereka semua tidak mampu untuk mendapatkan sebagian hak-haknya, apa lagi keseluruhan haknya. Dan di antara kezaliman yang sangat besar adalah kezhaliman terhadap orang-orang mukmin, muwahidin, kepada para da’i yang menyeru ke jalan Allah, kepada para wali Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS. al-Kahfi: 59)
2. Kemegahan Hidup Dan Nikmat Yang Melimpah
Di masa ini kita melihat banyak orang berpakaian mewah, tinggal di istana-istana dan gedung megah, naik kendaraan mewah, dengan perabotan rumah yang serba lux yang hampir-hampir tidak bisa dinalar. Padahal berapa banyak kemewahan yang menyeret manusia ke dalam dosa, maksiat dan kefasikan. Sampai-sampai orang menjadi lupa kepada agama Allah subhanahu wata’ala dan perintah-Nya, hanya lantaran tinggal di rumah mewah, naik kendaraan mewah. Tidak senang dan tidak mau menerima nasihat jika ada orang lain yang beramar ma’ruf nahi munkar.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadap nya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Israa’: 17)
3. Kufur Nikmat
Sebagian orang ada yang jika diberikan nikmat oleh Allah subhanahu wata’ala maka dia tidak mau bersyukur, Allah subhanahu wata’ala memberi nikmat namun dia melupakan hak-hak Allah subhanahu wata’ala yang ada dalam nikmat tersebut. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl:112)
Kelaparan dan ketakutan adalah dua hal yang selalu berdampingan, manusia jika kufur nikmat lalu Allah subhanahu wata’ala menimpakan kepada mereka kelaparan dan mereka tidak mau kembali kepada Allah subhanahu wata’ala maka Dia akan menimpakan ketakutan. Demikian juga jika mereka sudah ditimpa ketakutan, hilangnya rasa aman dan ketenangan namun tetap tidak mau kembali kepada Allah subhanahu wata’ala maka Dia timpakan kepada mereka kelaparan.
4. Banyak Orang Munafik
Salah satu sebab hancurnya umat adalah karena banyaknya orang munafik yang memegang urusan kaum muslimin. Orang munafik adalah orang yang menampak kan Islam namun memendam kekufuran, memerangi wali-wali Allah, para da’i di jalan Allah, para ulama dan orang-orang yang istiqamah menjalankan agama. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab, “Sesungguh nya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. (QS. Al-Baqarah:11)
Mereka mengaku sedang melakukan perbaikan, sebagian dari mereka berkata sebagaimana yang dikatakan Fir’aun kepada pengikutnya, dalam firman Allah, artinya, “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama-agamamu atau menimbul kan kerusakan di muka bumi”. (QS Ghafir:26)
5. Berwala’ (Setia) Kepada Kaum Kufar
Memberikan wala’ (loyalitas) kepada orang kafir dan tidak bersikap setia kepada orang mukmin masih banyak terjadi di masyarakat. Mereka setia kepada musuh-musuh Allah dan bangga dapat membantu serta menolong mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman,
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 173)
Maksudnya jika orang mukmin tidak berwala’ dengan orang mukmin, tidak berwala dengan penyeru penyeru kebaikan, tidak berwala’ dengan ahli ilmu dan ahli takwa, maka itu akan menyebabkan fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.
6. Meninggalkan Amar Ma’ruf Dan Nahi Munkar
Sesungguhnya di antara sebab hancur nya umat adalah karena meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman, artinya,
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (al-Anfal 25)
Hal ini sebagaimana digambarkan dalam hadits tentang safinah (perahu), yakni jika ada seseorang yang ingin mengambil air dengan cara melobangi perahu, lalu penumpang yang lain tidak mencegahnya, maka seluruh penumpang perahu akan tenggelam semua, bukan hanya orang yang melobangi perahu. Memang terkadang banyak alasan untuk meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Misalnya, “nanti saya tidak punya penghasilan, saya khawatir keluarga dan rumah, saya malu untuk berbicara, ini urusan ulul amri (penguasa), ini dan itu.”
7. Menyebarnya Riba
Jika riba sudah merajalela di suatu negeri maka ketahuilah -wahai sekalian hamba Allah- itu hanya tinggal menunggu peperangan dari Allah subhanahu wata’ala. Adzab dari Allah subhanahu wata’ala mungkin berupa krisis, kelaparan , hutang, dikuasai musuh, bencana dan lain-lain. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi mu.” (QS. al-Baqarah:278-279)
8. Penghacuran Masjid
Di antara sebab hancurnya sebuah negeri adalah jika masjid-masjid dirobohkan. Merobohkan masjid sebagaimana dikatakan Imam asy-Syaukani ada dua macam:
1. Takhribul hissi , yakni merobohkan masjid secara fisik.
2. Takhribul ma’nawi, yakni menelantarkan dari tujuan dibangunnya masjid, tidak ada kajian, ta’lim, muhadharah, digembok setiap saat, orang dilarang masuk dan lain-lain. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah).” (QS. al-Baqarah: 114)
9. Meninggalkan Jihad
Bagaimana tidak, sebab meninggalkan jihad fi sabilillah artinya membiarkan kerusakan di muka bumi tanpa mau mencegahnya, tidak mau menolong agama Allah subhanahu wata’ala dan al-Haq. Maka jelas sekali jika tidak ada jihad, kerusakan dan keburukan akan terus bercokol. Lihatlah bagaimana akibat meninggalkan jihad, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika kalian asyik berjual beli dengan ‘inah (satu jenis riba), mengikuti ekor-ekor sapi (bertani dan beternak) lalu meninggalkan jihad fi sabilillah maka Allah akan menguasakan kepadamu kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud)
10. Menyebarnya Kekejian
Bentuk-bentuk perbuatan keji amatlah banyak, di antara yang disebutkan dalam hadits adalah khabats (perzinaan), dan ini yang sangat mengkhawatirkan, juga minuman keras, alat-alat musik dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah meyebutkan beberapa kemungkaran beserta akibatnya, di antaranya adalah:
1. Tidaklah tersebar perzianaan kecuali Allah akan menurunkan tha’un dan penyakit aneh yang tidak pernah ada di masa lalu.
2. Tidaklah manusia mengurangi timbangan dan takaran (termasuk riba, menipu dalam jual beli dll) kecuali Allah akan menimpakan paceklik (kelaparan) kekurangan makanan pokok dan penguasa yang buruk (zhalim).
3. Tidaklan manusia menahan zakatnya kecuali Allah akan menahan turunnya air hujan dari langit, kalau bukan karena binatang ternak maka Allah tidak akan menurunkannya.
4. Tidaklah mereka merusak janji dengan Allah dan Rasul kecuali Allah akan menguasakan mereka kepada musuh. (Kholif Abu Ahmad)
Sumber : www.as-sofwah.or.id dari Sumber asal : Naskah Khutbah Jum’at “Asbab Hilak al-Umam”, Syaikh Nabil al-’Awadhi.