Isnin, 5 Oktober 2009

Kewafatan Rasulullah SAW

Diriwayatkan bahwa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada']. Pada masa itu Rasulullah SAW berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah SAW bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril AS dan berkata:

"Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu."
Setelah Malaikat Jibril AS pergi maka Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah.Setelah Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah SAW pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril AS. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata:

"Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna."

Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah SAW itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: "Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma." Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, "Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahwa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah SAW. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda."

Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah SAW tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, "Ya Rasulullah SAW, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau." Apabila Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah SAW dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. Setelah Rasulullah SAW sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah SAW melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, "Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?." Kemudian Ali ra. berkata, "Ya Rasulullah SAW, Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?." Lalu Rasulullah SAW berkata: "Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat".

Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah SAW, maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara 'Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah SAW, 'Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda." Rasulullah SAW berkata: "Wahai 'Ukasyah, Rasulullah SAW sengaja memukul kamu." Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal ra., "Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari." Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, "Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash]."

Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata: "Siapakah di pintu?." Lalu Bilal ra. berkata: "Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW unluk mengambil tongkat beliau."Kemudian Fathimah ra. berkata: "Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya." Berkata Bilal ra.: "Wahai Fathimah, Rasulullah SAW telah menyediakan dirinya untuk diqishash." Bertanya Fathimah ra. lagi: "Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah SAW?" Bilal ra. tidak menjawab perlanyaan Fathimah ra., Setelah Fathimah ra. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah SAW Setelah Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada 'Ukasyah.

Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata: "Wahai 'Ukasyah, janganlah kamu qishash baginda SAW tetapi kamu qishashlah kami berdua." Apabila Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera beliau berkata: "Wahai Abu Bakar, Umar dudukiah kamu berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua." Kemudian Ali ra. bangun, lalu berkata, "Wahai 'Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah SAW oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah SAW" Lalu Rasultillah SAW berkata, "Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu." Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: "Wahai 'Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah SAW, kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah SAW" Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah SAW pun berkata, "Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua." Berkata Rasulullah SAW "Wahai 'Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul."

Kemudian 'Ukasyah berkata: "Ya Rasulullah SAW, anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju." Maka Rasulullah SAW pun membuka baju. Setelah Rasulullah SAW membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah 'Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW maka ia pun mencium beliau dan berkata, "Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah SAW, siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya. Dan Allah SWT menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu." Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya." Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, "Wahai 'Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW di dalam syurga."

Apabila ajal Rasulullah SAW makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: "Selamat datang kamu semua semoga Allah SWT mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan menshalatkan aku ialah Allah SWT, kemudian yang akan menshalat aku ialah Jibril AS, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok bershalat ke atasku."

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, "Ya Rasulullah SAW anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?." Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati."

Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, maka sakit Rasulullah SAW bermula. Dalam bulan safar Rasulullah SAW sakit selama 18 hari dan sering diziaiahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada hari Senin dan wafat pada hari Senin. Pada hari Senin penyakit Rasulullah SAW bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun memberi salam, "Assalaarnualaika ya rasulullah." Lalu dijawab oleh Fathimah ra., "Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan beliau." Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka Bilal ra. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah ra. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah SAW dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah SAW dan baginda berkata, "Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan shalat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir." Setelah mendengar kata-kata Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: "Aduh musibah."

Setelah Bilal ra. sarnpai di masjid maka Bilal ra. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra.; "Wahai Fathimah apakah yang telah berlaku?." Maka Fathimah ra. pun berkata: "Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid." Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra., lalu Rasulullah SAW bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah SAW sampai di masjid maka beliau pun bershalat subuh bersama dengan para jemaah.

Setelah selesai shalat subuh maka Rasulullah SAW pun berkata, "Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia." Setelah berkata demikian maka Rasulullah SAW pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada malaikat lzrail AS, "Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah lerlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masukiah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku."

Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah SWT maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah SAW maka ia pun memberi salam, "Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?" (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?) Apabila Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; "Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat." Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra., "Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu." Maka Fathimah ra. pun berkata, "Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahwa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya." Kemudian Rasulullah SAW berkata; "Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?." Jawab Fathimah,"Tidak ayah." "Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur." Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah SAW mendengar tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: "Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku." Kemudian Rasulullah SAW pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, "Assalamuaalaikum ya Rasulullah." Lalu Rasulullah SAW menjawab: "Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?" Maka berkata malaikat lzrail: "Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali." Berkata Rasulullah SAW, "Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?" Berkata lzrail: "Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia." Tidak beberapa lama kemudian Jibril AS pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah SAW.

Apabila Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril AS maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, tahukah kamu bahwa ajalku sudah dekat" Berkata Jibril AS, "Ya aku tahu." Rasulullah SAW bertanya lagi, "Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah SWT" Berkata Jibril AS, "Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu." Berkata Rasulullah SAW: "Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti." Berkata Jibril AS, "Allah SWT telah berfirman yang bermaksud,

"Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga."
Berkata Rasulullah SAW: "Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku." Kemudian Rasulullah SAW berkata: "Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku." Selelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati." Jibril AS mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril AS itu maka Rasulullah SAW pun berkata: "Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?" Jibril AS berkata: "Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?" Anas bin Malik ra. berkata: "Apabila ruh Rasulullah SAW telah sampai di dada beliau telah bersabda,

"Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu."
Ali ra. berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengar Rasulullah SAW berkata: "Umatku, umatku." Telah bersabda Rasulullah SAW bahwa: "Malaikat Jibril AS telah berkata kepadaku; "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu."

Sabtu, 3 Oktober 2009

ERTI SYAHID




“YA ALLAH, aku mohon mati syahid di jalanMu dan wafat di negeri RasulMu (Madinah)”. Hadis Riwayat Malik. 87.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَوَفَاةً بِبَلَدِ رَسُولِكَ

Inilah bacaan doa Khalifah Umar bin Khatttab RA, Khalifah Ke 2 kerajaan Islam Madinah selepas kewafatan Nabi Muhammad SAW, sewaktu beliau sedang wukuf di Arafah. Beliau telah menceritakan hal ini kepada salah seorang sahabat di Madinah, selepas pulang dari menunaikan ibadah haji itu

“Wahai Khalifah, kalau engkau hendak mati syahid, tak tidak mungkin di sini.. Keluarlah berjihad, baru boleh jumpa!” Komen sahabatnya itu pada Umar.

“Aku dah ajukan pada Allah, terserah pada Allah le!” Jawab beliau.

Esokan paginya, semasa Umar RA sedang mengimami sholat Subuh di masjid, tiba-tiba dalam suasana kegelapan pagi itu, seorang pengkhianat Majusi bernama Abu Lukluah telah menikam beliau dengan tiga tikaman, menyebabkan beliau tersungkur rebah di samping mihrab. Abdur Rahman bin Auf RA cepat-cepat menggantinya, mengambil kedudukan sebagai imam itu dan terus sembahyang sehingga selesai sambil menangis. Tidak lama sesudah itu, Umarpun menghembuskan nafas terakhir. Beliau syahid di jalan Allah. Beliau wafat dalam keadaan sedang memimpin sholat kaum Muslimin. Subhanallah!

Kesimpulannya, berdasarkan riwayat ini, kita dapat menyimpulkan bahawa Islam menganjurkan supaya umatnya mengharap ‘mati syahid’ Bahkan inilah yang dinanti-nantikan seperti doa para pendahulu itu. Bukan sahaja panduan untuk hidup, bahkan untuk matipun! Mati mulia, itulah mati syahid. Secara umum bererti mati dalam perjuangan menegakkan agama Allah, akibat pembunuhan oleh pihak musuh kuffar di medan perang. Begitu juga Nabi SAW menyebutkan beberapa bentuk kematian seperti mati tenggelam, mati semasa mempertahankan harta dari dirampas perompak, mati kerana terkena wabak, atau juga mati bagi seorang wanita yang sedang berjuang melahirkan bayinya.

Begitu juga Asy-Syahid Abdul Aziz Ar-Rantisi, misalnya. Beliau juga merupakan salah seorang pemimpin HAMAS di Gaza, Palestin. Hanya beberapa waktu sebelum beliau wafat dalam sebuah wawancara beliau berkata…

“Setiap orang pasti menemui kematian. Kematian boleh datang dalam berbagai bentuk. Kalau aku boleh memilih, aku berharap mati syahid di jalan Allah dalam bentuk dirudal oleh helikopter Apache pasukan Yahudi Zionis Israel...”

Akhirnya memang betul, tidak berapa lama lepas itu beliau ditewaskan oleh oleh helikopter Apache pasukan Zionis sebagaimana yang beliau sendiri cita-citakan. Syahid.. Subhanallah!!

Nabi pernah memberitahu…

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَا

Barangsiapa memohon dengan jujur kepada Allah agar mati syahid maka Allah akan berikan kepada belaiu kedudukan syuhada walaupun beliau mati di atas katil.” (Hadis Riwayar Muslim. 3532.)

Oleh itu berdoalah minta mati syahid. Mengenai Jihad pula sila layari blog ini..
1…Monday, January 19, 2009 Pelajaran Jihad Diharamkan Di Seluruh Universiti Islam?
2…Saturday, January 31, 2009 Qardhawi Mahu Syahid Di Ghazzah, Kita Sertai HAMAS?

Kita sambung kuliah Jihad di sini dengan tafsir dari Surah Al-Fath, untuk mengetahui apa erti menang sebenarnya..

Firman Allah SWT…

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا ﴿١﴾

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا ﴿٢﴾
وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا ﴿٣﴾

“SESUNGGUHNYA Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (Qur’an Surah. Al Fath: Ayat1 – 3)

Ibnu Katsir mengatakan bahawa surah yang mulia ini turun ketika Rasulullah SAW kembali dari Hudaibiyah di bulan Dzulqaidah tahun ke 6 H, yang pada masa itu dihalang-halangi oleh kaum Musyrikin untuk memasuki Masjidil Haram dalam menunaikan umrah. Kaum Musyrikin cenderung untuk mengadakan perjanjian dan gencatan senjata serta meminta Rasulullah SAW pulang pada tahun ini dan kembali lagi pada tahun berikutnya. Tawaran ini disambut oleh Rasulullah SAW meskipun nampak agak ‘kurangsuka’diwajah sebahagian sahabat, diantaranya adalah Umar bin Khattab RA.

Setelah mereka menyembelih haiwan-haiwan kurban dan waktu pulang kemudiannya, Allah SWT menurunkan surah ini. Surah yang menceritakan tentang apa yang terjadi diantara Rasulullah SWT dengan mereka orang-orang Quraisy dan mengatakan bahawa perjanjian tersebut adalah kemenangan kerana terdapat berbagai maslahat didalamnya. (Tafsir Ibnu Katsir juz VII hal 325)

Erti ayat 1 surah di atas, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS. Al Fath : 1)

Terdapat perbedaan pendapat tentang maksud dari kata ‘fath’ (kemenangan) didalam ayat itu. Ada yang mengatakan bahawa ia adalah Futuh Mekah, berbagai kemenangan yang didapat oleh Rasulullah SAW, kemenangan orang-orang Romawi, ataupun bai’at Ridwan pada hari-hari Hudaibiyah, namun banyak yang menyebutkan bahawa kemenangan itu adalah perjanjian Hudaibiyah.

Az Zuhri mengatakan bahawa tidak ada kemenangan yang lebih besar dari perjanjian Hudaibiyah, dimana orang-orang Musyrik bercampur dengan kaum Muslimin memperdengar perkataan mereka, mulai bersemayamnya Islam di hati mereka, sehingga dalam kurun waktu tiga tahun ramai manusia yang masuk kedalam agama islam . (Fathul Qodir juz V hal 44)

Ayat setrussnya, ertinya : “..supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (QS. Al Fath : 2 – 3)

Ibnul Anbari mengatakan bahawa kata ‘fathan mubina’ (kemenangan yang nyata) belum sempurna kerana perkataan,”supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu” masih berkaitan dengan kemenangan tersebut, seakan-akan Dia mengatakan ”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” agar Allah SWT mengumpulkan buatmu dengan kemenangan ini ampunan dan mengumpulkan bagimu dengannya berbagai hal, yang menyenangkan pandanganmu di dunia dan akhirat.

Sayyid Qutb mengatakan bahawa kemenangan Hudaibiyah ini pun diikuti oleh berbagai kemenangan lainnya, seperti:

Satu: Kemenangan dalam Da’wah. Ibnu Ishaq mengatakan bukti kebenaran perkataan Az Zuhri diatas, adalah bahawa Rasulullah SAW tatkala berangkat menuju Hudaibiyah bersama dengan 1,400 orang, menurut penuturan Jabir bin Abdullah dan dua tahun kemudian beliau SAW berangkat lagi pada masa Futuh Mekah (kemenangan di Mekah) bersama 10,000 orang.

Kedua: Kemenangan di bumi. Kaum Muslimin masa itu merasa aman dari kejahatan orang-orang Quraisy, untuk itu Rasulullah SAW mengarahkan da’wahnya dalam rangka pembebasan jazirah dari sisa-sisa kejahatan orang-orang Yahudi, setelah membebaskannya dari Yahudi Bani Quinuqo, Bani Nadhir dan Bani Quraizhoh.. Dan kejahatan itu tergambar pada kekokohan benteng Khaibar yang menakutkan dijalan menuju Syam. Kemudian Allah SWT menundukkannya bagi kaum Muslimin dan mereka mendapatkan ghonimah yang banyak.. Dan Rasulullah SWT mengkhususkan ghonimah tersebut untuk orang-orang yang telah ikut serta dalam peristiwa Hudaibiyah.

Ketiga: Kemenangan pada sikap antara kaum Muslimin di Madinah, Quraisy di Mekah dan seluruh kaum Musyrikin yang berada di sekitar mereka… Orang-orang Quraisy mengakui ketangguhan dan eksistensi Nabi dan kaum Muslimin, dan menganggap bahawa Nabi dan kaum Muslimin adalah musuh mereka. Tetapi mereka menghalangi Nabi dan sahabatnya dengan cara yang paling baik pada waktu dimana mereka telah memerangi Madinah dalam dua tahun dengan dua kali peperangan dan peperangan terakhir adalah satu tahun sebelum Hudaibiyah ini.

Kaum Muslimin juga nampak begitu kuat di mata kabilah-kabilah, orang-orang Arab pun banyak yang mundur dari memeranginya, dan semakin tidak terdengar lagi suara-suara orang-orang munafiq.. Rasulullah SAW pula begitu gembira dengan surat ini. Hatinya gembira dengan karunia Allah yang besar diberikan kepadanya dan orang-orang beriman yang bersamanya. Bergembira dengan kemenangan yang nyata, ampunan yang menyeluruh, kenikmatan yang sempurna, petunjuk kepada jalan Allah yang lurus, pertolongan yang kuat dan dengan keredhoan Allah SWT kepada orang-orang beriman yang telah mensifatkan mereka dengan penyifatan yang mulia. (Fii Zhilali Qur’an juz VI hal 3316 – 3317)

Jalan Menuju Kemenangan

Surah ini memberikan penjelasan bahawa kemenangan yang diperoleh kaum Mukminin tidak selamanya harus melalui suatu kontak senjata dengan orang-orang kafir atau musuh-musuhnya, namun kemenangan juga bisa diperoleh melalui suatu perjanjian atau perdamaian dengan mereka selama hal itu memang memberikan kemaslahatan bagi da’wah Islam dan kaum Muslimin.

Kondisi realiti umat Islam saat ini yang terus menerus menjadi ‘mangsa’ orang-orang kafir tidaklah boleh dikatakan kontradiksi dengan surat Al Fath ini yang menceritakan tentang kemenangan yang diperoleh kaum Mukminin. Perintah Allah SWT kepada Rasul Nya dan juga orang-orang beriman untuk pergi berumrah yang kemudian dihalang untuk memasuki Masjidil Haram oleh orang-orang Quraisy dan pada akhirnya menghasilkan perjanjian Hudaibiyah ini terjadi pada tahun ke 6 H.

Perjanjian yang dikatakan oleh Allah SWT sebagai kemenangan yang nyata ini tidaklah terjadi secara tiba-tiba atau tanpa sebab. Allah SWT tidak memberikan kemenangan ini diawal-awal da’wahnya ketika di Mekah ataupun ketika mereka baru tiba hijrah di Madinah. Tetapi Allah SWT memberikan kemenangan ini setelah 13 tahun da’wah Islam ini muncul dan dibawa oleh Rasulullah SAW di Mekah dan 6 tahun da’wah ini mewarnai masyarakat Muslim di Madinah.

Selama masa itu Rasulullah SAW mempersiapkan suatu generasi yang kuat, kokoh, sabar dan tahan akan berbagai ujian yang menerpa mereka sebagai satu konsekuensi dari perjalan da’wah di jalan Allah SWT untuk menyongsong kemenangan yang dijanjikan Allah SWT termasuk Hudaibiyah ini. Selama masa itu berbagai ujian dan peristiwa-peristiwa besar mewarnai perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya, diantaranya :

Pada fase Mekah terjadi berbagai penyiksaan dan intimidasi yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy terhadap orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, pemboikotan selama tiga tahun, penolakan masyarakat Thaif terhadap da’wah. Yang pada akhirnya fase ini ditutup dengan hijrahnya kaum Muslimin dan Rasulullah SAW ke Madinah.

Pada fase Madinah sebelum terjadi perjanjian Hudaibiyah berbagai upaya dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk mengukuhkan masyarakat Muslim pertama tersebut, seperti pembangunan masjid dan mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor dan setelah itu Allah SWT mengizinkan mereka untuk berperang melawan orang-orang yang menentang da’wah sehingga terjadilah berbagai peperangan, seperti Badar, Uhud, dan Ahzab disamping peperangan melawan orang-orang Yahudi.

Dari perjalanan da’wah generasi Muslim pertama tersebut maka kondisi umat Islam saat ini merupakan salah satu proses untuk meraih kemenangan yang dijanjikan Allah SWT. Meskipun kesewenang-wenangan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin begitu melampaui batas terlebih lagi didukung dengan berbagai saranan yang dimilikinya namun hingga saat ini mereka belum mampu menguasai kaum Muslimin. Soviet Union cuba takluk Afghanistan, Amerika pernah diusir dari Somalia, dan akan barambus dari bumi Iraq dan Afghanistan. Hingga sekarang hendak hapuskan HAMAS di Gaza dan mahu hancurkan Iran pula.

Tetapi ternyata Allah SWT takdirkan hal itu tidak terjadi dan justru kemenangan berada di pihak mujahidin Gaza bahkan mereka mendapatkan simpati dari seluruh masyarakat dunia. Berbagai kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin di bumi mereka tidak akan pernah sanggup memusnahkan Islam dan kaum Muslimin… Di Malaysia perjuangan menegakkan keadilan dan Agama Allah dalam semua bidang termasuk politik tetap diteruslkan. Oleh itu tentu ada kemenangan dan syahid, dan tidak akan pernah meredupkan cahaya Allah yang akan senantiasa menyinari bumi ini.

Justru itu semua akan semakin menyedarkan kaum Muslimin bahawa pertentangan antara haq dan batil akan terus berlangsung hingga hari kiamat dan juga akan menyedarkan mereka untuk kembali kepada Allah SWT. Kembali berkomitmen dengan nilai-nilai robbani, dan mengukuhkan ukhuwah Islamiyah sebagai modal meraih kemenangan yang telah dijanjikan Allah SWT.

Firman Allah SWT…Ertinya : “Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (QS. Al Baqoroh : 214)

Semoga Allah SWT memberikan kesabaran kepada seluruh mujahidin yang berjuang di jalanNya, samada di dalam dan luar negara demi meninggikan kalimat-Nya dan menyatukan umat ini didalam satu barisan yang kokoh. Wallahu A’lam

EID MUBARAK 1430 HIJRAH


Selamat Menyambut Hari Raya 'Aidil Fithri. Maaf Zahir & Batin. Mudah-mudahan kita dirahmati dan diberkati Allah SWT sentiasa, tiap masa, tiap ketika. Jangan pula lupa untuk terus menghidupkan malam raya ini dengan amal - ibadah seumpama malam - malam Ramadhan yang lepas, dengan berzikir terutama sekali bertakbir serta bertahmid, berqiyamullail, bersholawat dan berdoa kepada Allah SWT. Sungguh telah warid beberapa hadits mengenai keutamaan menghidupkan malam hari raya dengan ibadah. Dan inilah yang sering dilalaikan oleh kita yang mengambil malam raya sebagai malam untuk beristirehat setelah berqiyam dalam malam-malam Ramadhan. Moga dengan menghidupkan malam ini dengan ibadah, Allah akan terus menghidupkan hati kita dengan keimanan, keyakinan, ketakwaan, mahabbah dan makrifah. Justru menjadikan hati tersebut qalbun salim (hati yang sihat sejahtera yang diredhai Allah).

Maka telah berkata Imamuna an-Nawawi dalam karya beliau, "al-Adzkaar" pada "bab al-adzkaar al-masyruu`ah fi al-'eiidain" seperti berikut:-

Ketahuilah bahawasanya mustahab hukumnya menghidupkan malam dua hari raya dengan berzikir kepada Allah dan sembahyang serta melakukan lain-lain amalan ketaatan kerana telah warid hadits berhubungan dengannya: "Sesiapa yang menghidupkan malam dua hari raya (yakni malam hari raya `aidil fithri dan malam hari raya 'aidil adha), nescaya tidak akan mati hatinya pada hari matinya segala hati." dan "Sesiapa yang mendirikan malam dua hari raya kerana Allah semata-mata, nescaya tidak akan mati hatinya ketika matinya segala hati". Demikianlah hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi`i dan Ibnu Majah, dan ianya adalah hadits dho'if yang kami riwayatkan daripada riwayat Abu Umamah secara marfu' dan mawquf, dan kedua-duanya adalah dho'if, akan tetapi hadits-hadits berhubung dengan persoalan fadhail tidaklah mengapa untuk dijadikan amalan sebagaimana telah kami dahulukan sebutannya pada awal kitab ini.

Para ulama telah berbeza pendapat mengenai kadar bagi menghasilkan menghidupkan malam tersebut, maka pendapat yang adzhar ianya tidaklah terhasil melainkan dengan menghidupkan sebahagian besar malam tersebut. Dan terdapat juga qil yang menyatakan bahawa terhasil walaupun dengan sebentar.
Selain daripada itu, maka Syaikh Abdul Hamid Quddus @ Kudus menulis dalam "Kanzun Najaah was Suruur" halaman 111 beberapa amalan yang dianjurkan pada hari raya, antaranya:-

Daripada Junjungan Nabi SAW: "Sesiapa yang mengucapkan سبحان الله و بحمده tiga ratus (300) kali dan dihadiahkan pahalanya kepada kaum muslimin yang telah meninggal dunia, dimasukkan dalam setiap kubur mereka 1000 nur dan dijadikan Allah baginya ketika dia mati 1000 nur dalam kuburnya."
Mudah - mudahan Allah SWT menerima segala amalan kita dan inilah sebahagian lagi zikir yang dianjurkan oleh ulama kita untuk diamalkan pada pagi hari raya.


**************************************
عيد مبارك كل عام و أنتم و أهليكم بخير